hki.unugiri.ac.id, Bojonegoro — Hasil penelitian yang dikembangkan oleh sejumlah dosen Fakultas Syari’ah dan Adab (FSA) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) diimplementasikan melalui kegiatan pelatihan penggunaan aplikasi Harmoniku berbasis teknik Nonviolent Communication (NVC) di Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan yang berlangsung di Gedung MWC Dander pada Jumat [21/8/2026] tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan media digital dan pendekatan komunikasi nonkekerasan sebagai salah satu strategi dalam memitigasi konflik rumah tangga dan mencegah perceraian.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut diikuti oleh anggota PAC Fatayat kecamatan Dander. Pelaksanaan kegiatan menjadi bagian dari proses penelitian dan pengembangan yang melibatkan dosen FSA UNUGIRI, yaitu Burhanatut Dyana, S.Sy., M.H. Ririn Fauziyah, M.H.I dan Ahmad Amirul Kholid, M.Pd., bersama sejumlah mahasiswa yang tercantum dalam tim penelitian, yakni Ananda Shelya Vania Putri, Achmad Dwi Saputra, Siti Nur Khasanah, Siti Ambarwati, dan Siti Halimahtus Sa’diyah.
Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan Syubbanul Wathan. Pembukaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian awal sebelum peserta memasuki sesi utama kegiatan.
Setelah pembukaan, Ketua Pelaksana, Ririn Fauziyah, M.H.I menyampaikan sambutan sekaligus pengantar mengenai pelaksanaan kegiatan. Penyampaian tersebut menjadi jembatan menuju sesi berikutnya sekaligus memberikan gambaran mengenai tujuan dan arah kegiatan yang diikuti oleh peserta.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua PAC Fatayat Dander, Lely Setyorini, S.Pd. Keterlibatan PAC Fatayat Dander dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antara lingkungan perguruan tinggi dengan masyarakat. Kehadiran peserta dari lingkungan Fatayat juga memberikan ruang bagi terjadinya proses pertukaran pengetahuan antara tim akademik dan masyarakat.
Kolaborasi semacam ini menjadi penting karena persoalan keluarga merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengetahuan akademik yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dapat memperoleh manfaat yang lebih luas ketika disampaikan melalui ruang-ruang yang dekat dengan masyarakat dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Sesi utama kemudian diisi oleh Giati Anisah,M.Pd., dosen UNUGIRI, sebagai pemateri. Materi diarahkan pada pengenalan dan pemahaman mengenai komunikasi nonkekerasan serta pemanfaatan aplikasi Harmoniku.
Nonviolent Communication atau NVC merupakan pendekatan komunikasi yang menempatkan empati dan pemahaman terhadap kondisi masing-masing pihak sebagai bagian penting dalam berinteraksi. Dalam kehidupan rumah tangga, pendekatan tersebut dapat membantu seseorang untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan dibutuhkan tanpa harus menggunakan kalimat yang menyerang atau menyudutkan pasangan.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena konflik dalam rumah tangga sering kali tidak hanya dipengaruhi oleh substansi masalah, tetapi juga oleh cara masing-masing pihak merespons masalah tersebut. Ketika sebuah persoalan disampaikan melalui tuduhan atau perkataan yang menyakitkan, pembicaraan dapat berkembang menjadi pertengkaran.
Sesi praktik memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan penyampaian materi secara teoritis. Peserta dapat mengikuti proses penggunaan aplikasi sekaligus memahami bagaimana media digital tersebut berkaitan dengan materi yang sebelumnya disampaikan oleh pemateri.
Penggunaan aplikasi dalam proses pelatihan juga menunjukkan adanya upaya untuk menghadirkan metode pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Media digital dapat menjadi sarana untuk membantu masyarakat memperoleh informasi secara lebih praktis dan mendukung proses pemahaman terhadap materi yang diberikan.
Praktikum tersebut berlangsung sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama peserta. Interaksi selama sesi praktik memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal fungsi dan pemanfaatan aplikasi Harmoniku secara lebih dekat.
Tidak hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan aplikasi, proses tersebut juga diarahkan agar peserta memahami nilai yang dibawa di dalamnya, yakni pentingnya membangun komunikasi yang sehat. Dengan demikian, teknologi ditempatkan sebagai sarana pendukung, sementara penguatan kemampuan komunikasi tetap menjadi bagian utama yang hendak dibangun.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berbicara mengenai pengenalan teknologi, tetapi juga mengenai bagaimana teknologi dan pendekatan komunikasi dapat digunakan sebagai media edukasi dalam membangun relasi keluarga yang lebih sehat.
Kegiatan di PAC Fatayat Dander tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari proses penguatan pemahaman masyarakat mengenai komunikasi yang sehat dan empatik. Lebih dari sekadar penggunaan sebuah aplikasi, proses yang berlangsung diharapkan dapat mendorong peserta untuk membawa pengetahuan mengenai komunikasi nonkekerasan ke dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Penulis : Ananda Shelya Vania Putri

